5 KIAT PRAKTIS MENGATASI PERSOALAN HIDUP

Artikel ini bagus banget nih dibaca kalo lagi punya masalah :) , membuat kita paham bagaimana menghadapi masalah. Lebih bagus lagi jika selalu kita terapkan :)

5 KIAT PRAKTIS MENGATASI PERSOALAN HIDUP

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar
Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah apa yang disebut masalah atau persoalan hidup. Dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya berpeluang memiliki potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.
Ada lima hal yang dapat kita lakukan ketika dihadapkan pada aneka persoalan hidup ini. Diantaranya adalah:
1. Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan yang diinginkan.
Kita memang diharuskan memiliki keinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah SWT berikan kepada kita. Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah SWT pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah SWT.
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orangtuanya.
Saat mencari pekerjaan, carilah pekerjaan dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap andaikata Allah SWT, tidak mengijinkan karena Allah SWT, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah SWT. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.

2. Ridho
Siap menghadapi apapun yang akan terjadi dan bila terjadi maka satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridho/rela dengan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan, kecewa berat tetap saja kenyataan sudah terjadi. Pendek kata ridho tidak ridho kejadian tetap sudah terjadi, maka lebih baik hati kita ridho saja menerimanya.
Tentu saja ridho/rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apapun, itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridho itu hanya amalan hati kita menerima kenyataan yang ada, tapi hati dan tubuh kita ikhtiar memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhoi Allah SWT dan kondisi hati yang tenang/ridho ini sangat membantu menjadikan proses ikhtiar menjadi positip, optimal dan bermutu.
Orang yang stres adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental menerima kenyataan yang ada, selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai-andai dengan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, sungguh kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton, ini adalah kenyataan hidup, silahkan kenangn perjalanan hidup kita yang telah lalu benar-benar kita harus arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah, semua ini tidak menyelesaiikan masalah, bahkan bisa jadi sebaliknya; menambah masalah.

3. Jangan Mempersulit Diri
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisir dan mempersulit diri, sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri, selain tidak pada tempatnya, juga pasti membuat masalah akan menjadi besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan aslinya dan tentu ujungnya akan terasa jauh lebih nelangsa, lebih repot dalam menghadapinya/ menyelesaikannya .
Orang yang menghadapi masa pensiun terkadang jauh sebelumnya sudah sengsara terbayang gaji yang kecil, pasti tidak akan mencukupi kebutuhan padahal saat ini saja sudah pas-pasan, ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah belum lunas, utang belum terbayar, belum lagi andaikata sakit, tak ada anggaran pengobatan, umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, maka semakin panik menghadapi pensiun, tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi namun harus terkendali dengan baik jangan sampai perkiraan itu membuat putus asa dan sengsara sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun yang ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbagahagia daripada sebleumnya, apakah Allah SWT, Yang Maha Kaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan atau terhadap kakek dan nenek-nenek padahal pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah SWT.
Maka dalam menghadapi persoalan apapun, jangan hanyut dan tenggelam dalam pikiran yang salah, kita harus tenang, menguasai diri, renungkanlah janji dan jaminan pertolongan Allah SWT, dan bukanlah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata bisa lolos pada akhirnya, tidak segawat yang kita perkirakan sebelumnya.

4. Evaluasi Diri
Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan suara itu pulalah yang akan kembali pada kita, artinya segala apa yang terjadi pada diri kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.
Allah SWT Mahapeka terhadap apapun yang kita lakukan, dan dengan keadilannya tidak akan meleset siapapun yang berbuat sekecil apapun kebaikan dan setersembunyi apapun, niscaya Allah akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurutnya, dan sebaliknya kezhaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzhalimi orang lain padahal sesungguhnya kita sedang menzhalimi diri sendiri dan sedang mengundang bencana balasan dari Allah SWT yang pasti lebih getir dan gawat, naudzhubillah.
Andaikan ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridho, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala kita pun begitu kecil? Bisa jadi semua ini peringatan bahwa kita sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.
Jangan terjebak hanya menyalahkan dan mendamprat orang lain, karena tindakan emosional seperti ini, sedikit sekali nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan bila tidak tepat serta berlebihan hanya akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh merubah diri, maka berarti pula kita merubah orang lain. Camkan, orang lain tidak hanya punya telinga, namun memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.

5. Hanya Allah-lah Satu-satunya Penolong
Andaikata kita sadar dan meyakini bahwa bekal yang sangat kokoh untuk mengarungi hidup ini sehingga kita tidak gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita sebenarnya Allah SWT, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuan- Nya Yang Mahasempurna.
Dan Dia sendiri berjanji akan menuntun memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit dan pelik karena semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah tapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongannya kita akan terus berkelana dalam kesusahan, persoalan yang berujung pada persoalan baru, tanpa nilai tambah bagi dunia akhirat kita, benar-benar kerugian yang nyata.

Terimalah ucapan selamat berbahagia bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika episode hidupnya dalam kesusahan atau kesenangan dengan tetap menjaga shalat, akhlak mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s