Perjalanan Panjang Menuju Negeri Keabadian

PERJALANAN PANJANG MENUJU NEGERI KEABADIAN

Artikel ini iwa dpt dari milis kelas. Bagus banget untuk bahan renungan yang harus berulang-ulang kita baca.

Akhi Fillah,…
    Tulisan di bawah ini mengajak kita semua untuk merenung, bahwa setiap kita saat ini sebenarnya sedang berada dalam sebuah penantian menuju perjalanan yang meletihkan dan melelahkan. Sebuah perjalanan panjang menuju negeri keabadian, negeri yang akan memisahkan orang-orang fajir dan orang-orang shalih yang beriman. Sebuah fase perjalanan yang menyebabkan manusia akan
berkata, “sungguh hidup kita di dunia tidak lebih dari sesaat saja”. Bagaimana mereka tidak mengatakan bahwa 60 tahun hidup yang mereka jalani di dunia bagai hidup sesaat saja? Bukankah satu hari di padang mahsyar seperti 50.000 tahun hidup yang sesungguhnya. Lima puluh ribu tahun? Bagaimana kita dapat membayangkan letih dan lamanya masa saat itu? Hidup dalam keadaan telenjang tanpa mengenakan selembar benangpun, tanpa makanan
dan minuman, tanpa hubungan nasab dan tali persaudaraan. Matahari didekatkan hingga satu mil di atas ubun-ubun manusia, keringat bercucuran dan semuanya hanya akan sibuk dengan dirinya sendiri. Sebuah pemandangan yang paling mengerikan dan menakutkan bagi setiap yang menyaksikan.

Akhi Fillah,…
    Sesungguhnya seorang hamba dituntut untuk mengetahui masa depan hidupnya yang hakiki, sehingga ia akan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Setiap manusia akan membuat garis hidupnya untuk menghadapi kehidupan dunia ini dan masa depannya. Padahal sesaatnya kehidupan dunia itu tiadalah sebanding dengan kehidupan masa depannya yang hakiki itu. Dengan demikian sudah selayaknya jika seorang mukmin yang berakal telah menggariskan untuk unianya dan lebih-lebih akhiratnya.

    Ada seorang yang datang kepada Sufyan Ats Tsauri rahimaallah berkata :”Berilah aku nasehat”, kemudian Sufyan berkata : ”Beramallah kamu untuk dunia sesuai dengan lamanya kamu tinggal di situ, dan beramallah kamu untuk akhiratmu berdasarkan kekekalan dan keselamatanmu di akhirat”. (Wafiyatul a’yan li Ibni Khalikan Juz 2/287).

Semoga Allah merahmati seseorang yang berkata :
    ”Tiada tempat tinggal bagi seorang yang akan dihuni setelah kematiannya, kecuali tempat tinggal yang telah ia bangun sebelum kematiannya. Jika ia membangun dengan kebaikan, maka indahlah (tempat tinggal itu, namun jika ia bangun dengan keburukan dosa-dosa, niscaya merugilah pemiliknya). Jiwa (seseorang) itu selalu mencintai dunia, padahal ia tahu bahwa zuhud di dunia adalah dengan meninggalkannya. Maka tanamlah pokok ketagwaan itu selama kamu mampu, ketahuilah bahwa kamu akan menjumpainya setelah kematianmu”.
Dahsyatnya Saat Tibanya Azal

    Sebelum kita menuju terminal awal menuju perjalanan panjang, mari kita renungi  kedahsyatan di gerbang sakaratul maut. Allah berfirman :

” Jika kamu melihat diwaktu orang-orang yang dzalim berada dalam sakaratul maut sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata :
keluarkanlah nyawamu, di hari ini kamu akan dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan”
Al An’am, 6 : 93).

Alam Barzakh, Sebuah Terminal Awal menuju Perjalanan Panjang

Akhi Fillah,…
    Kita akan memulai perjalanan panjang ini dari sebuah lubang kecil di pojokan bumi ;  rumah masa depan setiap manusia. Itulah kubur, tempat sempit gelap yang menakutkan, yang akan meremukkan setiap tulang dan memisahkan persendian, melumat daging dan menghancurkannya.
Jika ada yang berbangga dengan kehidupannya saat di dunia, baik karena kecantikan maupun kemapanan hidup, camkan! semua itu tidak akan menolong sedikitpun saat ia telah masuk ke liang kubur. Kematian bukan hanya milik orang buruk rupa atau tua renta, bukan hanya milik orang papa dan menderita, namun mereka yang cantik rupawan muda dan menawan, kaya dan hidup senang juga akan merasakannya.
Saat itulah, tak ada lagi perbedaan fisik di antara mereka. Semuanya akan membusuk dan menyisakan tulang tengkorak yang menakutkan bagi setiap yang melihatnya, sekalipun ia kekasih yang paling mencintainya saat di dunia. Tak ada yang menolong mereka yang di alam kubur kecuali iman dan amal shalih yang telah mereka tabung semenjak di dunia. Di sinilah akhirnya kita menyadari, bahwa yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah zhahir fisik yang rupawan atau kekayaan dan kecukupan, namun kebersihan hati dan kemurnian iman di dalam dada seseorang. Di saat semua yang mengantar akan berpisah, harta yang dimiliki akan ditinggalkan, anak dan istri akan berganti pemilik, maka tak ada lagi yang dinanti kecuali amal shalih yang akan menolong himpitan kubur yang sempit.

Akhi Fillah,…
    Alam barzhah adalah persinggahan pertama sebelum manusia menuju alam keabadian akhirat. Setiap manusia akan melewati jenjang ini, di mana Munkar dan Nakir akan bertanya tentang siapa rabb mereka, apa agama yang dipeluknya, kitab suci apa yang diimaninya, juga tentang manusia agung yang mulia; Muhammad SAW. Jika ia seorang mukmin sejati, semua pertanyaan itu akan dijawab dengan penuh mantap, yakin dan percaya diri, bahwa itulah jawaban yang diiginkan, Allah pun akan meneguhkan hatinya untuk tetap memegang teguh kalimat itu hingga dikuburnya. Malaikat tersenyum dengan jawaban yang diberikan, diperlihatkan kepadanya tempat kembalinya kelak, iapun riang penuh kebahagiaan, ia memohon agar hari kebangkitan dipercepat, saking tidak kuatnya menahan rindu untuk segera bertemu wajah pencipta-Nya yang mulia, berjumpa dengan kekasihnya tercinta, masuk ke surganya yang penuh dengan segala kenikmatan yang tiada terkira. Adapun mereka yang kufur dan ingkar, bersifak nifak dan selalu durhaka, jawaban yang keluar dari mulutnya selalu sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s