Cerita “lucu” UN – 3

Pada suatu malam yang hening, seseorang berdoa dengan lirih setelah shalat tahajudnya,

“Ya Allah, hamba sudah seminggu yang lalu mengawas UN SMA, saya tau mereka punya kunci jawaban, tapi saya tidak pernah berhasil menangkap basah mereka sedang memegang kunci, saya tidak bisa membuktikan kecurangannya apalagi mencegahnya, hamba sangat miris melihat kemungkaran-kemungkaran di depan mata, setiap mengawas. Namun apa yang bisa hamba perbuat, hamba sudah kuatkan mata untuk ‘memelototi’ mereka selama 2 jam, bahkan bisa menyaingi camera CCTV, hamba sudah kuatkan kaki dan badan ini berdiri 2 jam di depan mereka, tapi tidak berhasil menangkap basah kecurangan mereka. Ketika mereka izin ke toilet, hamba cegah sedemikian rupa, walaupun ada yang ngotot maka saya temani ia ke toilet, walhasil Kepseknya menekan Kepsek sekolah hamba untuk memberikan teguran atas sikap hamba tsb. Betul, yang diberi teguran itu adalah guru pengawas yang melaksanakan amanah dengan baik, dan bukannya anak muridnya yang berjamaah berbuat kecurangan, emang sudah edan zaman sekarang kan, ya Allah?

Sekarang hamba mendapat amanah lagi mengawas UN SMP, sudah 3 hari, hamba pun belum berhasil menangkap basah ‘maling-maling kecil’ tsb, apalagi mencegahnya. Kemarin hari ke-3, ujian matematika sebagian mereka tidak ada yang nyoret-nyoret (baca: nghitung) di kertas buram nya, tapi 1 jam lembar jawaban sudah terisi semua, dengan apalagi kalo bukan dengan kunci jawaban mereka mengisinya. Bahkan mereka pun terang-terangan tidak membaca naskah soalnya. Ya Allah, benar-benar mendidih darah hamba melihat kecurangan dan kelihaian mereka. Generasi ini nanti yang akan menjalankan roda negara ini, apa jadinya ya Allah?

Ya Allah, di hari terakhir ini, berikanlah hamba kesempatan untuk mencegah kemungkaran di ruangan tempat hamba mengawas. Berikanlah kesempatan hamba menangkap basah kecurangan mereka, sehingga memberikan efek jera untuk generasi berikutnya. Minimal satuu… aja ya, Allah. Hamba sangat berat rasanya memikul perjanjian yang ada di Pakta Integritas yang kira-kira bunyinya: Saya sanggup tidak membiarkan siswa bekerjasama dalam menjawab soal dan kecurangan lainnya. Oleh karena itu hamba ingin bersungguh-sungguh mengawasi mereka.

Amiin ya Rabbal’alamiin.

Di pagi hari nya, sang Pengawas UN yang berdoa tadi itu langsung Allah bantu, tidak saja 1 kunci, namun lebih dari 10 kunci ia temukan di awal ujian (tertangkap tangan), dan 1 buah Handphone yang berisi kunci jawaban, si anak tsb bukannya malu, malah cengengesan dan membentak sang Pengawas tsb. Sang pengawas pun bersyukur Allah telah mengabulkan doanya, namun tetap juga bersedih, ternyata semua anak dipersenjatai dengan kunci jawaban. Ya Allah, rakyat kecil aja banyak yang penipu, maling, gimana pejabat-pejabat teras atas yang basah bergelimang uang ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s