Stress di usia sangat muda

Dpt postingan dr Ibu Elly Risman:
(4 Maret 2014)

Dear Parents, saya suka sekali mencium anak dan cucu-cucu saya, saat harum atau keringatan.
Saya berdendang,”Kamu acem tapi mama suka! Mama simpen di otak mama.
Bila terlintas ada bau yg sama dimana dan kapan saja, saya teringat anak dan cucu saya yang memiliki ‘bau’ yang sama. Itu bikin saya tersenyum!

Hari-hari ini saya harus banyak tersenyum menolong jiwa saya sendiri, karena ujian tengah semester dihadapi cucu laki-laki saya pertama, aduhaai beratnya.

SD kelas 1, semester1, harus mengarang 1 paragraf dengan judul: Peristiwa penting.
Huaah, dulu waktu anda kelas 1, bukankah anda baru belajar : Ini Budi?
Katanya, di TK tidak boleh diajarkan baca tulis!
Jadi bagaimana kalau di SD semester1 harus mengarang??
Belum IPS, matematika, Bahasa Inggris dan lain-lain.

Paman memetik 40 jeruk, diberikan tetangganya14 lalu memetik 30 lagi, berapa jeruk paman sekarang?
IPS: tempat beribadah umat Budha?
Apa bahasa Inggrisnya kompor? Kursi roda?
Bahasa Indonesianya saja belum lempeng!
Apakah ayah ibu dulu belajar bahasa Inggris di kelas 1?

Bayangkan kalau anak dipaksa ortunya masuk SD usia 5.5 – 6 tahun?
Kalau dia tidak bisa, di rumah akan kena marah.
PeEr mesti selesai, abis itu Les!

Ah, saya dulu masuk SD usia 5 juga! Bela ortunya.
Kasihan sekali ortu ini, mereka lupa dulu pelajarannya tak seberat sekarang!
Pulang masih bisa main.

Bukankah anak kita sudah tercerabut dari masa bermainnya terlalu cepat? Stress di usia sangat muda?
Engkaukah itu anakku? Buah hatiku?

Dulu, pulang sekolah masih bisa main masak-masakan, layang-layang, tangkap kecebong di got!
Dari mulai berangkat sekolah sampai di rumah, berapa jam dalam situasi ‘belajar’?

Apalagi kalau pengasuhannya disubkontrakkan ke tangan orang lain.
Kesal dan gembira tidak tahu kemana diadukan.
Anak dapat sisa-sisa waktu dan tenaga. Ortu mudah marah.

Begitulah, hari berganti minggu, bulan dan tahun, tidak terasa anak pra remaja.
Waktu diganti dengan uang dan benda.
Jiwanya hampa, pikiran tak terjaga.

Tantangan dan bencananya tak tampak pada mata, tak terdengar telinga!
Kita silap, anak kita generasi gadget.
Perangkat dan pulsanya kita belikan.
Lari dari stress, ‘hampa’ dan peer pressure, anak berselancar didunia maya tak bertepi.
3-7 jam sehari.
Sangat mungkin ia terpapar Pornografi.

Ortu tidak sadar otak mulai terganggu. Yang ortu tahu, anaknya malas, susah bangun, tidak mau les, prestasi menurun, melawan, dan gadget di tangan melulu.
Bagian kontrol di otak depan belum sempurna berkembang.
Seharusnya ortu pengontrolnya.
Jarak terentang selama ini membuat ortu kehilangan.

Anak mana yang empuk disasar Narkoba dan Pornografi?
Yang Boring, Lonely, Angry, Tired and Stress!
Engkaukah itu anakku? Engkaukah buah hatiku?

Selalu ada harapan.
Karena Dia Maha pengasih.
Otak bisa direkonstruksi!
Mari selesaikan urusan dengan diri sendiri, agar hati penuh kasih!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s