Pendidikan Karakter Sesuai Dengan Tahapan Usia Anak

Oleh Innu Virgiani

Bismillaah,

Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang pendidikan karakter sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Dalam Islam, istilah karakter dikenal dengan akhlak (mulia). Dalam teori psikologi karakter dikenal dengan sebutan Emotional Quotient (EQ) atau Character Quotient . Tentunya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu, apakah karakter itu

Apakah Karakter?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti: 1). Sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2). Karakter juga bisa bermakna “huruf”. Terkait hal yang kita bahas, tentunya definisi pertama yang kita gunakan.

Menurut (Ditjen Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

W.B. Saunders (1977) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu.

Gulo W (1982) menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.

Kamisa (1997), mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.

Dari berbagai definisi di atas, saya definisikan karakter sebagai

cara berpikir dan berperilaku baik yang dimiliki oleh individu untuk bisa diterima dalam menjalankan peran bermasyarakat yang sesuai dengan standar norma yang berlaku.

Apakah Pendidikan karakter ?

Pendidikan yang ditujukan untuk membantu mengembangkan (moral) anak sehingga anak bisa diterima secara sosial, dalam menjalankan peran bermasyarakat dan berperilaku sesuai dengan standar moral.

Dan sama seperti karakter yang dikenal dengan berbagai istilah, Untuk istilah pendidikan karakter pun ada bemacam-macam, misalnya pendidikan akhlak, social and emotional learning, life skills education, ethical reasoning and emotional quotient (E.Q.) teaching

Apa pentingnya pendidikan karakter ?

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (Al Bukhari)

Akhlak (Mulia) adalah perhiasan yang paling utama karena orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin dapat mencapai derajat seperti orang yang siang harinya selalu berpuasa dan dimalam hari selalu shalat malam.

“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi),

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik dari kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.”(Muttafaqun alaih)

Rasulullaah shallallahu alaih wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Maukah aku kabarkan kepada kalian siapa yang tempat duduknya paling dekat denganku pada hari kiamat?” orang-orang pun terdiam, maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pun mengulangnya dua atau tiga kali. Lantas mereka pun menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.”(HR. Ahmad dan al-Bukhari)

Oleh karena itu, para ulama terdahulu selalu mengajarkan anak-anak mereka mempelajari adab dan akhlak terlebih dahulu sebelum mereka menuntut ilmu. Berikut perkataan beberapa imam terdahulu yang menyatakan tentang pentingnya mempelajari adab menuntut ilmu.

1. Imam Sufyan ats-Tsauri (wafat th, 161 H) berkata “Mereka tidak menyuruh/mengirimkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama 20 tahun”
Beliau juga mengatakan, “Adab itu 2/3 ilmu.”

2. Imam Muhammad bin Sirin (wafat th.110 H) berkata, “ Mereka (Salafush Shalih) mempelajari petunjuk Nabi ( tentang Adab) sebagaimana mereka belajar ilmu.”

Dalam ilmu psikologi, Daniel Goleman menjelaskan dalam bukunya ‘Emotional Intelligence’ bahwa jika kita tidak mampu mengelola aspek perasaan atau emosi kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu menggunakan aspek kecerdasan konvensional/ kognitif kita (IQ) secara efektif.

Ia juga mengatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan 80 % sisanya ditentukan oleh faktor-faktor kecerdasan emosional. Pada akhirnya, memang banyak sekali penelitian terkait EQ yang menunjukkan bahwa EQ berperan sangat penting dalam keberhasilan hidup seseorang, baik dalam pekerjaan, pendidikan, dan dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari.

Penelitian lain menyebutkan bahwa anak-anak yang mampu mengendalikan dirinya untuk menunda mendapatkan suatu hal yang menyenangkan (postponement of pleasure or gratification) akan lebih baik dalam menyesuaikan diri ketika dewasa, berprestasi lebih baik di sekolah, dan menjalani hidup yang baik ketika dewasa.

Penelitian Martin Seligman tentang optimisme pada pekerja menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki skor optimis lebih tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik.

Orang-orang yang memiliki skor kepekaan non verbal yang baik (empati) lebih sukses dalam pekerjaan dan hubungan sosial.

Orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik memiliki EQ yang baik pula.

Sekolah yang menerapkan program emotion learning untuk membantu siswa melakukan manajemen marah, grustasi, kesendirian, dalam beberapa hari mengalami penurunan jumlah siswa yang berkelahi di waktu istirahat siang.

Daniel Goleman memformulasikan gagasannya dalam kerangka kecakapan emosi yang meliputi kecakapan Intrapersonal intelligence dan kecakapan interpersonal intelligence.

1. Intrapersonal intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan dalam diri kita sendiri yang terdiri dari:

1. Kesadaran diri (self awareness) : memahami emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri.

2. Pengaturan diri meliputi (self regulation) : pengendalian diri (emosi), dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif.

3. Motivasi diri (self motivation): dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis.

Orang-orang dengan kemampuan interpersonal yang baik akan mampi melewati masa-masa yang sulit seperti depresi, perasaan tidak berdaya, moody, cemburu, penyesalan, yang memnuatnya tidak bahagia. Orang dengan EQ yang baik akan menjalani hidup yang bahagia sebagai individu.

2. Interpersonal intelligence merupakan kecakapan dalam berhubungan dengan orang lain yang terdiri dari :

1. Empati (empathy): memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis

2. Kemampuan Sosial (social skill): pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerjasama tim.

Orang-orang dengan kemampuan interpersonal yang baik akan lebih efektif dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain meskipun melewati hal-hal yang sulit. Lebih sukses dalam karier baik di kantor maupun di rumah.

Bagaimana agar kita dapat menjadi pribadi yang berkarakter atau memiliki akhlak yang mulia?

Sebagai muslim, jalan atau cara yang termudah dan paling utama untuk bisa berakhlak mulia adalah dengan meneladani Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, karena akhlak beliau adalah Al-Quran. Beliau adalah manusia yang memiliki akhlak yang terbaik. Beliau memberi orang yang menghalang-halanginya, memaafkan orang-orang yang menzaliminya, menyambung tali silaturahim kepada keluarga yang memutuskan hubungan dengannya, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya. Ini semua adalah dasar-dasar akhlak.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(al-Ahzaab : 21) dan “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.”(al-A’raaf : 199-200)

Siapa Yang Mengajarkan Pendidikan Karakter?

Ajaran agama kita dan semua teori Psikologi menjelaskan bahwa orang tua (care giver) yang merupakan sumber pertama dan utama bagi anak untuk tumbuh dalam hidupnya bertanggung jawab dan berperan penting dalam mengajarkan pendidikan karakter ini.

Bagaimana Tahapan perkembangan anak dan Pendidikan Karakternya?

Menurut Erik Erikson(1963), ada 8 tahap perkembangan psikosial manusia. Sejak usia bayi hingga usia remaja ada 5 tahap, yaitu:

1. Trust vs Mistrus

Tahap ini berlangsung pada masa oral, pada umur 0-1 tahun atau 1,5 tahun (infancy).
Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah MEMBUAT BAYI PERCAYA KEPADA LINGKUNGAN, karena :

– bayi sepenuhnya bergantung pada kualitas dan kesungguhan caregiver-nya.
– butuh kepekaan caregiver untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan bayi karena bayi belum mampu mengungkapkan kebutuhannya kecuali dengan menangis yang tentunya banyak penyebabnya.
– bila bayi telah berhasil membangun rasa percaya terhadap si penjaga, bayi akan merasa nyaman & terlindungi di dalam kehidupannya.
– bila penjagaannya tidak stabil & emosi terganggu, bayi akan merasa tidak nyaman dan tidak percaya pada lingkungan sekitar.
– kegagalan mengembangkan rasa percaya, menyebabkan bayi akan merasa takut dan yakin bahwa lingkungan tidak akan memberikan kenyamanan bagi bayi tersebut, sehingga bayi tersebut akan selalu curiga pada orang lain.

Dalam Islam, fase ini adalah masa bayi (0 hingga 2 tahun)
Pada fase ini orang tua anak perlu untuk mengembangkan kasih sayang secara dua arah dimana ibu memberikan kasih sayangnya dan dalam waktu bersamaan juga menstimulus/ mengembangkan kemampuan anak memberikan respon terhadap kita.

Caranya?

a. Caregiver SIAP untuk SELALU bersikap penuh kasih sayang, lembut dan sabar kepada anak.

bagaimana anak bisa percaya sama dunia nya sedangkan ortunya udah stress duluan repot segala macam punya anak.. dan marah2 ?

b. Peka kebutuhan bayi. Tetap sabar, penuh kasih sayang, dan lembut dalam menstimulus fisik anak, menerima perasaan-perasaan bayi dan tidak membiarkan bayi menangis terlalu lama.

c Tidak membandingkan-bandingkan perkembangan bayi karena tiap bayi punya perkembangan unik masing-masing. Minimal sekali, orang tua mengetahui milestone perkembangan fisik anak sehingga tau kapan masa aman dan tidak aman untuk setiap perkembangan fisik anak.

d. Komunikatif dengan bayi. Banyak orang tua yang tidak mengobrol atau malas mengobrol dengan bayinya.

Alasannya ? karena anaknya juga belum bisa ngomong.. ngga ngerti… ngaga ngerespon juga.. ngapain diajak ngomong…

Lho.. kalau bayinya ngga diajak-ajak ngomong, kapan bisa bicaranya… karena kemampuan verbal kan ngga datang dengan sendirinya, butuh distimulus…..

e. Perbanyak sentuhan fisik yang penuh kasih sayang… pelukan, ciuman, usapan, belaian, dll…

f. Perbanyak juga kata-kata positif, misalnya

‘ayah bunda sayang kamu…’
‘masya Allaah cantiknya, pintarnya, kuatnya, hebatnya..

Menyemangati anak setiap kali anak berhasil melakukan gerakan tertentu, ntah itu ketika anak mulai miring-miring, tengkurap, membolik balik badan, dll..

Selalu berikan masukan positif, STOP untuk ragu memuji anak, mengatakan bahwa kita bangga padanya..!

Saat ini, seharusnya tidak ada lagi orang tua- orang tua yang berpikir bahwa memberikan kasih sayang cukup lewat perilaku, apalagi uang… Padahal salah satu kebutuhan penting manusia adalah perasaan yakin bahwa dirinya ‘baik’, ‘berarti’, ‘dicintai’ oleh orang tuanya, keluarganya, gurunya, lingkungannya, dll.. dan itu didapatkan lewat kata-kata verbal yang dengan sangat jelas diterima oleh anak. Karena seperti manusia normal, anak tidak dapat membaca pikiran orang lain.

g. Yakinkan anak bahwa ia tidak sendirian.

Hingga usia sekitar 8-9 bulan, bayi hanya paham bahwa sesuatu yang ada jika terlihat olehnya. Jika tidak terlihat maka objek itu tidak ada atau hilang (object permanence). Oleh karena itu jika ingin meninggalkan bayi, mulai dengan mengatakan padanya/izin (walau bayi mungkin belum paham) dan usahakan tetap memperdengarkan suara kita hingga terdengar oleh bayi agar bayi merasa aman dan nyaman, bahwa caregiver-nya tidak meninggalkannya. Ajarkan bayi permainan cilukba/peek a boo sejak usia 7-8 bulan agar bayi dapat mulai paham bahwa sesuatu yang tidak terlihat di matanya sebenarnya tetap ada dan tidak menghilang. Pada usia yang lebih besar lagi, ajak bermain permainan menyembunyikan barang, mainan atau semacamnya untuk dicari oleh bayi.

Setelah anak merasa percaya pada dunianya, anak akan merasa aman, diterima seutuhnya sehingga ia akan merasa yakin untuk melakukan dan meminta sesuatu yang dibutuhkannya. Dengan demikian karakter Percaya Diri yang insya Allah akan terbentuk. Percaya diri inilah yang menjadi fokus kita selanjutnya dan akan sangat membantu anak menghadapi kehidupannya.

2. Otonomy vs shame and doubt (Otonomi vs perasaan malu dan ragu-ragu)

Tahap ini merupakan tahap anus-otot (anal/mascular stages), masa ini disebut masa batita yang berlangsung mulai usia 1-3 tahun (early childhood). Saat ini, bayi sudah disebut dengan anak (di atas 1 tahun, bukan bayi lagi =)) .

Dalam Islam, masa anak-anak (2-7 tahun atau disebut dengan fase thufulah)
Pada fase inilah merupakan fase penting memberikan pondasi dasar tauhid pada anak melalui cara aktif agar anak terdorong dan memiliki tauhid aktif dimana anak mau melakukan sesuatu yang baik semata menurut Allah.

Fase ini fase penting penanaman pondasi bagi anak. Tinggal cari cara nih bagaimana menerapkannya.

Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah MEMBUAT ANAK PERCAYA DIRI, karena :

– Pada masa ini anak cenderung aktif mencoba-coba dalam segala hal, baik eksplorasi fisiknya maupun lingkungan, sehingga orang tua dianjurkan untuk tidak terlalu membatasi ruang gerak serta kemandirian anak.

– Pembatasan ruang gerak pada anak dapat menyebabkan anak akan mudah menyerah dan tidak dapat melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.

– Kebebasan tersebut tentunya berbatas agar anak tidak semau-maunya.

– Anak yang terlalu diberi kebebasan akan cenderung bertindak sesuai yang dia inginkan tanpa memperhatikan baik buruk tindakan tersebut.

– Penting bagi anak untuk dapat belajar tentang kontrol diri dan harga diri.

Caranya?

a. Caregiver selalu berkata- kata positif, siap untuk menyemangati anak ketika melakukan sesuatu, memberikan pujian, bersyukur, berterimakasih untuk anak.. dan tentunya, penting bagi caregiver untuk punya stok perbendaharaan kata yang tepat untuk setiap situasi.

>jangan cuma pinter, hebat… nanti anak malah bingung kok aku dibilang hebat dan pinter mulu sih….

Misalnya, bangganya bunda sama kamu.. masya Allah, mandirinya mau makan sendiri, lincahnya larinya, Nak.. Gesitnya ambi barang-barangnya… Sabarnya, mau nungguin bunda selesai mandi.. sopannya, berbicara dengan lemah lembut.. Terimakasih anak penolong, mau bantuin bunda beresin mainannya.. dll

b. Menyiapkan rumah yang aman agar anak mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk bereksplorasi.

c. Berempati dan melatih anak2 untuk mengenali emosinya.. apakah ia sedang marah, kesal, senang, sedih, bahagia, dll

Ketika anak bermasalah, orang tua nomor 1 harus melakukan empati…! bayangkan bagaimana rasanya menjadi anak… tanyakan dulu apa emosi yang dirasakannya… bantu anak untuk tahu apa yang ia rasakan.. karena mengenali emosi ini akan sangat membantu anak untuk merasa dipahami dan dterima oleh orang tua..

d. Sejak anak memasuki usia 2 tahun, fase ini adalah waktunya bagi ortu mengenalkan ‘peraturan’ tegas dan konsisten namun tetap dengan penuh kelembutan dan kasih sayang… karena masa-masa ini apalagi setelah fisik nya lebih sempurna, anak akan akan semakin giat mengeksplorasi ini itu dan kita akan mulai mengalami sendiri bagaimana tantrum pada anak =))

Mengapa sejak awal kita harus lembut?

Karena harapannya, sejak awal kita ingin memiliki anak yang berhati LEMBUT. sehingga kalau anak ‘macem2’ di usia ini dan ke depannya, kita ngga perlu ngomel2 luar biasa untuk mengingatkannya..

e. Orang tua terus berlatih untu berpikir positif..! tidak judging apalagi labelling

Misalnya, kalau anak susah diingatkan, berarti anak kita persisten, berpendirian teguh, gigih.. ini adalah modal yang baik untuk seeemua anak…

Kalau anak semau2 nya, ngga ikut aturan?

Berpikirlah bahwa berarti anak kita kreatif dan masih belajar untuk mengenali peraturan yang kita ajarkan

Kalau anak manjat-manjat lari kesana kesini

Berpikirlah bahwa anak kita aktif, sehat, lincah

dlsb.

Orang tua harus pintar membuat label positif untuk anak agar anak terus percaya diri. Karena pada masa selanjutnya, kita berharap bahwa anak kita memiliki kemandirian, percaya pada kemampuannya sendiri, merasa disayangi orang tua, merasa ia mampu melakukan sesuatu, merasa bangga bahwa ia dapat melakukan hal yang baik, berani mengungkapkan yang diinginkannya, merasa bahagia, sehingga ketika di dalam lingkungannya pun ia tidak akan ragu-ragu, mau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan MENGAMBIL INISIATIF untuk suatu tindakan yang akan dilakukan. Inisiatif inilah yang menjadi fokus perkembangan karakter di tahap selanjutnya.

3. Inisiatif vs Guilt ( Inisiatif vs rasa bersalah)

Tahap ini dialami pada anak saat usia 4-5 tahun (preschool age).

Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah penanaman semua nilai-nilai/karakter baik dalam berbagai situasi dengan cara yang baik pula, karena:

– Anak-anak pada usia ini mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menimbulkan rasa ingin tahu terhadap segala hal yang dilihatnya
– Mereka mencoba mengambil banyak inisiatif dari rasa ingin tahu yang mereka alami.
-Akan tetapi bila anak-anak pada masa ini mendapatkan pola asuh yang salah, mereka cenderung merasa bersalah dan akhirnya hanya berdiam diri.
– Sikap berdiam diri yang mereka lakukan bertujuan untuk menghindari suatu kesalahan-kesalahan dalam sikap maupun perbuatan.

Oleh karena itu, orang tua harus sangat cerdas dalam memanfaatkan kesempatan dalam setiap situasi kehidupan yang dihadapi oleh anak. Tentunya tetap dengan menyesuaikan perkembangan kognitif anak yang belum sempurna sehingga harus melakukannya berulang-ulang karena anak tidak akan langsung dapat memahami apa yang kita ajarkan.

Caranya?

a. Dengan mengajarkan dan menjadi contoh (uswah/keteladanan) dalam mengerjakan amalan -amalan utama, yaitu bertauhid pada Allah, sholat tepat waktu, berbakti pada orang tua

b. Mengajarkan bagaimana memenuhi kebutuhan fisiologis diri dan menjaga diri, seperti
– makan dan minum tepat waktu
– tidur dan bangun tepat waktu
– menyemangati anak untuk tidur sendiri
– menjaga aurat (mandi terpisah dengan anak, buka baju di kamar mandi, menunjukkan aurat hanya pada orang-orang tertentu, dan yang boleh memegang aurat hanya orang-orang tertentu, dll)
– berolahraga, bermain dan melakukan aktivitas lainnya

c. Mengajarkan anak-anak untuk mengenali ‘fungsi’ nya dalam lingkungan, misalnya
– memberikan ‘tugas’ di rumah untuk bertanggung jawab, misalnya membereskan mainannya sendiri, membereskan tempat tidur, dll yang tentunya tetap dengan bimbingan dan ditemani orang tua
– membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah yang sangat ringan
– mengenalkan sekolah dan tata tertib nya (bagi yang ingin menyekolahkan)
– mengenalkan sholat di mesjid, namun jika anak belum mampu untuk tertib boleh ditunda dulu, sesuai kesiapan anak
– mengajarkan dan mengaplikasikan nilai-nilai baik lainnya seperti bersilaturahim, memuliakan tetangga, berbuat baik pada teman, bersedekah, bergaul dan bersabar, menjaga persaudaraan, berbicara yang baik, berbuat jujur, berlaku adil, penyayang, cinta kebersihan

d. Terus berikan kebebasan dan arahan pada anak untuk bereksperimen dalam lingkungannya,

Pada fase ini anak akan memberikan kita banyakk pertanyaan- pertanyaan… dan sebisa mungkin kita harus memberikan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Agar maka anak cenderung akan lebih banyak mempunyai inisiatif dalam menghadapi masalah yang ada di sekitarnya. Sebaliknya apabila anak selalu dihalangi keinginannya, dan dianggap pertanyaan atau apa saja yang dilakukan tidak ada artinya, maka anak akan selalu merasa bersalah.

e. Aturan terus berikan dengan konsisten.

Perlu dipahami bahwa pada masa ini semua aturan-aturan tersebut masih dalam proses belajar bagi anak.. yang tentunya akan dilewati dengan jatuh bangun. Jika masa-masa sebelumnya dilewati dengan baik, insya Allah pada masa ini sebenarnya anak sudah mulai dapat memilah milih mana hal yang baik mana yang buruk. Nilai-nilai agama, norma sosial sudah mulai ditangkap anak dengan keterbatasannya.

Keterbatasan kognitif anak membuat anak tidak bisa langsung mencerna dan mengaplikasikan nilai2 baik yang kita ajarkan… benar-benara butuh kesbaran dan pengulangan-pengulangan….. agar mereka dapat ‘deal’ dengan aturan lingkungan.. dapat mulai mampu untuk mengontrol dan menguasai diri ketika ingin sesuatu.. ingin melanggar aturan.. atau menahan diri ketika ada masalah dengan temannya..dll. Bagaimanapun secara kognitif, cara berpikir anak masih egosentris. Yaitu hanya mampu memandang sesuatu dari satu sudut pandang, yaitu dirinya sendiri.

Di bawah ini ada beberapa karakter lain dengan hadits yang mendukung, yang dapat kita tanamkan untuk anak-anak kita:

– Berkata-kata baik, berempati

Allah Taala berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(al-Qolam : 4) Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma mengatakan, “Nabi shallallahu alaih wa sallam bukanlah orang yang kasar dan suka berkata-kata kotor.

Anas bin Malik radhiyallahu ahu mengatakan, “Aku telah melayani Rasulullah shallallahu alaih wa sallam selama sepuluh tahun, tidak pernah aku mendengar beliau mengatakan ‘ah’ kepadaku, atau ‘kenapa sih kamu mengerjakannya?’ atau ‘ayo kerjakan!’”(Muttafaqun ‘alaih)

– Dermawan, mau berbagi, meminjamkan mainan

Jabir radhiyallahu anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan sifat dermawan beliau akan lebih lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril menemuinya. Biasanya Jibril menemui beliau pada tiap malam di bulan Ramadhan untuk mengajarkan Al-Quran kepada beliau. Maka sungguh, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam adalah orang yang lebih dermawan dalam menyebarakan kebaikan daripada angin yang berhembus.”(Muttafaqun alaih)

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam tidak pernah diminta apapun untuk kepentingan Islam kecuali pasti beliau berikan.” Anas melanjutkan, “Pernah seorang laki-laki datang dan diberi banyak sekali kambing oleh Nabi shallallahu alaih wa sallam. Kemudian orang itu pun pulang ke kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian karena Muhammad adalah orang yang suka memberi pemberian yang tidak takut miskin.”(HR. Muslim)

– Pemalu, menjaga aurat

Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Nabi shallallahu alaih wa sallam adalah seorang yang lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Apabila melihat sesuatu yang tidak beliau senangi, maka kami akan mengetahuinya dari raut wajah beliau.”(Muttafaqun alaih)

– Rendah hati, tidak sombong, berkata benar

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku mendengar Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyanjungku sebagaimana orang-orang Nashara menyanjung putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba dan utusan-Nya.”(HR. al-Bukhari)

– Pemberani, percaya diri, optimis, kepemimpinan

Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu alaih wa sallam adalah orang yang paling baik, paling dermawan, dan paling berani. Pernah pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan dengan sebuah suara. Maka orang-orang pun pergi ke arah suara itu. Namun ternyata mereka berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaih wa sallam sedang kembali dan telah mendahului mereka menghampiri suara tersebut. Beliau menunggangi kuda milik Abu Talhah sambil memikul pedang dipundaknya. Beliau pun berkata, “Jangan khawatir, jangan khawatir.. !”(Muttafaqun alaih)

Ali radhiyallahu anhu berkata, “Sungguh, ketika perang Badr, kami berlindung disisi Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, sedangkan beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan paling banyak mendapat kesulitan.”(HR. Ahmad)

– Lemah lembut

Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Pernah seorang arab badui datang dan kencing di Masjid. Maka orang-orang segera mencela dan ingin memukulinya. Melihat hal itu Nabi shallallahu alaih wa sallam pun berkata kepada mereka, “Biarkan dia, siramlah air kencingnya itu dengan setimba atau seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan menyulitkan.”(Muttafaqun ‘alaih) dan beliau pernah bersabda, “Mudahkanlah, jangan menyulitkan, dan tenangkanlah, jangan membuat orang lari!”(Muttafaqun alaih)

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pernah berkata, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha lembut, yang suka dengan kelembutan. Dia memberi atas kelembutan itu sesuatu yang tidak diberikan atas kekasaran atau yang selainnya.”(Muttafaqun alaih)

– Pemaaf, mampu mengendalikan diri

Allah Taala berfirman, “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”(al-Maaidah : 13)

Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, “Tidak pernah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam diberi dua pilihan kecuali beliau memilih yang paling mudahnya, selama perkara itu bukan suatu dosa. Jika perkaranya adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Beliau tidak pernah murka karena dirinya sendiri. Hanya saja beliau murka ketika kehormatan Allah terlanggar, beliau murka karena Allah.”(Muttafaqun ‘alaih)

Masa-masa lima tahun pertama anak atau yang sering disebut dengan golden age, sangat penting sekali bagi anak untuk kita optimalkan. Karakter-karakter yang sudah kita tanamkan di masa ini insya Allah akan sangat membantu anak dan terlihat pada masa-masa setelahnya, ketika anak-anak terjun ke lingkungannya, wallohu a’lam..

4. Industrial vs Inferioritas

Tahap ini merupakan tahap usia 6-12 tahun (school age).

Dalam Islam, fase ini disebut masa tamyiz (7-10 tahun).

Di fase ini anak sudah mulai mampu membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya sendiri sehingga di fase inilah kita sudah mulai mempertegas pendidikan pokok syariat.

Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah keuletan/kegigihan/ kerajinan dalam melakukan tugas-tugasnya serta anak bangga pada dirinya sendiri (menghargai dirinya sendiri, serta merasa dirinya berhasil menjalankan peran-perannya), karena:

– Pada fase ini anak mulai keluar dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sehingga semua aspek memiliki peran misal orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian, teman harus menerima kehadirannya
– Namun anak tidak selalu mendapatkan itu semua dalam lingkungan sehingga orang tua harus paham tentang kondisi sekolah anak, teman sepermainanya, dlsb.
– Pada usia ini anak dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil memenuhi tuntutan lingkungan sehingga anak mengembangkan sikap rajin.
– Jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), anak dapat mengembangkan sikap rendah diri.

Pada tahap ini, anak akan punya keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang bersifat intelektual dan diterima lingkungan… anak sudah mulai masuk ke lingkungan yang lebih luas, anak menyadari kebutuhan untuk mendapat tempat dalam kelompok seumurnya. Anak harus berjuang untuk mencapai hal tersebut. Bila dalam kenyataannya ia masih dianggap sebagai anak yang lebih kecil baik di mata orang tua maupun gurunya, maka akan berkembang perasaan rendah diri. Anak yang berkembang sebagai anak yang rendah diri, tidak akan pernah menyukai belajar atau melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual. Yang lebih parah, anak tidak akan percaya bahwa ia akan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.

Dengan demikian peranan orang tua maupun guru sangat penting dalam memperhatikan kebutuhan dan kemampuan anak. Orang tua dan guru harus mampu menemukan nilai positif dan kompetensi unik yang dimiliki oleh anak.

Caranya ?

1. Dukung anak dalam menyiapkan keperluannya, berupa pengawasan dan menyediakan media-media pembelajaran
2. Semangati anak bahwa ia mampu menyelesaikan tugas-tugasnya
3. Komunikatif dengan anak tentang hal-hal apa saja yang terjadi dalam kesehariannya
4. Tetap membuat anak produktif dalam melakukan tugas-tugas di rumah
5. Berikan motivasi untuk anak agar terus lebih baik
6. Melakukan penerimaan dan menghargai atas setiap usaha yang telah anak lakukan. >jangan hanya memberikan kritik atau kata-kata seharusnya.. seharusnya… lebih baik lagi kalau… atau semacamnya..
7. Terus gali minat anak
8. Jangan mempercayakan pendidikan anak pada sekolah sepenuhnya. Aktif cari tahu bagaimana kondisi sekolah anak, teman-teman dlsb
9. Bersahabat dengan teman-teman anak. Jangan hanya menjadi orang tua yang protektif/ malah overprotektif
10. Tetap pantau kegiatan-kegiatan anak, lindungi anak dari kejahatan seksual, pornografi, pornoaksi, atau semacamnya.
11. Buat kegiatan rutin keluarga yang menggembirakan, dengan ide/usul/masukan-masukan dari anak
12. Ajak anak berpendapat, bermusyawarah tentang suatu hal dll

Kembali ke teori EQ sebelumnya, dengan demikian, kita berharap di masa mendatang anak akan memiliki kemampuan intrapersonal dan interpersonal dalam menjalani kehidupannya. Ini adalah modal dasar yang penting bagi anak, terutama ketika anak memasuki masa remaja dan setelahnya.

5. Identitas vs kekacauan identitas

Tahap ini merupakan tahap remaja, dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 12-18 tahun/anak.

-Di dalam tahap ini lingkup lingkungan anak semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di masyarakat
– Pencarian jati diri mulai terjadi dalam tahap ini.
– Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik.
– Jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut.

Dalam Islam fase ini disebut dengan Masa Amrad (10-15 tahun)

Fase ini adalah fase dimana anak mulai mengembangkan potensi dirinya guna mencapai kedewasaan dan memiliki kemampuan bertanggung jawab secara penuh. Dalam islam, fase ini juga merupakan fase dimana anak mencapai aqil baligh sehingga sudah semakin pandai menggunakan akalnya secara penuh. Salah satu yang menjadi tuntutan bagi anak kemudian adalah kepandaiannya dalam mengatur harta yang dimulai dengan kemampuan mengatur anggaran untuk dirinya sendiri.

Setelah anak memasuki usia 15 tahun, dalam Islam, berarti anak telah masuk pada Masa Taklif (15-18 tahun).

Pada masa ini anak seharusnya sudah sampai pada titik bernama taklif atau bertanggung jawab. Bagi lelaki setidaknya fase ini paling lambat dicapai di usia 18 tahun dan bagi anak perempuan paling lambat dicapai di usia 17 tahun. Tanggung jawab yang dimaksud selain pada diri sendiri juga tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat sekitar dan masyarakat secara keseluruhan.

Pada fase ini, yang menjadi fokus perkembangan karakter anak adalah anak memiliki kemampuan intrapersonal dan interpersonal yang baik dan bertanggung jawab.

Caranya?

1. Bantu anak untuk meningkatkan kemampuan intrapersonalnya dengan
terus memahami dirinya, yang meliputi apa yang ia rasakan, ia inginkan, apa yang ingin dicapainya
dan bimbing anak dalam mencapai hal-yang diinginkannya tersebut. Pancing anak untu terus memotivasi dirinya ketika menghadapi masalah/kegagalan. Yakinkan anak bahwa setiap masalah yang terjadi diberikan Allah hanya sesuai dengan kemampuannya,

2. Bantu anak meningkatkan kemampuan interpersonalnya dengan aktif mendukung anak untuk masuk ke organisasi atau kegiatan-kegiatan bermanfaat. Sehingga anak dapat mengembangkan sikap empati dan sosialisasinya (bagaimana mendukung orang lain, mengatasi masalah, bekerja sama, berkomunikasi, dlsb.

3. Dukung anak untuk menentukan minat, mengembangkan bakat, dan fokus dalam mengejar cita-citanya.

4. Menjadi sahabat bagi anak dalam mengatasi konflik-konflik remajanya, seperti pubertas yang dihadapi, ketertarikan terhadap lawan jenis, jerawat, berpenampilan yang menarik, dll

5. Terus ingatkan anak untuk bertanggung jawab terhadap ibadah-ibadah wajibnya

6. Terus dukung anak untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhan materinya. Bagaimana menabung, jajan, membayar uang sekolah, hang out dengan teman-teman, dll.

Sumber:

https://m.facebook.com/groups/1644375889120160?view=permalink&id=1749413791949702&refid=18&_ft_&__tn__=%2As

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s